Entry: Iklan Kondom Monday, February 26, 2007



Beberapa teman di kelas Seminar hari ini mengajukan topik pengaruh Iklan Kondom dalam perilaku seks bebas anak muda. Topik itu laris manis dengan sukses, dan (sepertinya) akan menjadi topik yang akan digunakan untuk presentasi mata kuliah ini. Karena judulnya mata kuliahnya adalah Seminar Masalah-Masalah Komunikasi, saya sudah langsung bisa nebak bagaimana kelanjutannya. Hm...lets see....begini cara berpikir orang-orang kebanyakan:

 

Iklan kondom yang ditayangkan di media massa, bahkan hanya ditayangkan di MTV, yang dikenal sebagai TV-nya anak muda, memberikan pengaruh yang signifikan dalam mendorong anak muda untuk melakukan seks bebas. Iklan kondom itu seolah-olah menjustifikasi bahwa seks bebas itu diperbolehkan, asal memakai kondom. Berangkat dari teori pemwajaran media, maka dengan ditayangkannya iklan ini di media massa, anak muda akan melihat perilaku seks bebas adalah perilaku yang wajar. Semestinya media massa menyadari betul pengaruhnya yang kuat terhadap audiens dan bersikap hati-hati dalam menyajikan tayangan iklan-nya. Karena seperti yang dikatakan dalam teori kultivasi, semakin terekspos seseorang dengan terpaan media, maka semakin dia mempercayai realitas media sebagai realitas yang real. Oleh karena itu sebaiknya iklan kondom tidak ditayangkan di TV anak muda, atau bahkan tidak usah sama sekali, agar tidak berkontribusi dalam degradasi moral yang terjadi pada anak muda bangsa.

 

Well, okey, mungkin memang bahasa degradasi moral yang terjadi anak muda bangsa sedikit berlebihan. Tapi please deh, saya udah sering banget mendengar kyai, ulama, guru, pejabat, bahkan sampai masyarakat sekalipun mendengung-dengungkan hal itu. Agak-agak capek mendengarnya dan agak-agak miris. Padahal baik kyai, ulama, guru, pejabat sampai ketua RT juga banyak yang melakukan seks bebas, well, paling enggak, untuk kasus kyai dan ulama, mereka bisa berlindung di balik diperbolehkannya poligami. Saya cuma gregetan kalo mengingat betapa munafiknya bangsa kita, berdalih ini itu, menyangkal ini itu, dan akhirnya end up doing nothing to solve the problem.

I think, they just have to sit tight and try to understand, bahwa memang pada kenyataannya, anak-anak muda kita, yang tinggal di Negara so-called-Indonesia-yang-Ketimuran ini, memang banyak sekali yang melakukan seks di luar nikah.
That's the fact. Titik. And they should do something to address the issue.

 

Angka-angka pelaku seks bebas memang mencengangkan di kalangan anak muda, dan saya rasa sekarang sudah waktunya kita tidak lagi melakukan penyangkalan, namun sudah harus konkrit melakukan sesuatu. Salah satu hal konkrit yang semestinya diajarkan pada anak muda adalah tentang pendidikan seks dan cara melakukan seks aman. Itu adalah solusi yang logis dan realistis. Kenyataannya, pendidikan seks yang diajarkan di Indonesia masih berkesan malu-malu, tidak to the point dan masih mengkriminalkan pelaku seks bebas dan melabelkannya sebagai seorang yang amoral. Individu-individu atau kelompok masyarakat yang khawatir akan dampak seks bebas seperti penyakit kelamin, kehamilan yang tidak diinginkan dan HIV/AIDS kemudian mencoba memberikan penyuluhan tentang seks yang aman, salah satunya dengan pemakaian kondom. Tapi alih-alih dianggap sebagai penyelamat, mereka malah diperlakukan sebagai biang kerok degradasi moral anak bangsa.

 

Akibat penyangkalan berbasiskan moral itulah, akhirnya banyak sekali anak muda yang tidak mengerti tentang apa itu seks yang aman. Seks bebas sudah terlanjur menjamur, dan mereka banyak yang kemudian salah kaprah dan lebih percaya pada mitos-mitos yang beredar, seperti misalnya apabila tidak ingin hamil, setelah melakukan hubungan seks sebaiknya makan nanas muda dan minum sprite, ada juga yang mengatakan bahwa setelah berhubungan seks, ketika sedang mencuci vagina sebaiknya dilakukan dengan sambil jongkok dan mengangkangkan kaki agar sperma yang sempat masuk kedalam bisa keluar; Perilaku seks yang tidak aman ini kemudian mengarah ke masalah-masalah lain yang lebih serius yang dapat kemudian membahayakan nyawa anak muda, khususnya dalam hal ini perempuan.

 

Salah satu masalah yang paling ditakuti perempuan ketika melakukan seks diluar nikah adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Kasus pengguguran bayi seringkali ditemui dan mewarnai tayangan-tayangan Buser dan Patroli. Perempuan yang menggugurkan bayi-nya dianggap sebagai seorang kriminal, seorang pembunuh berhati dingin, bahkan lebih rendah dari binatang karena binatang tidak akan membunuh bayinya sendiri. Tapi sayangnya masyarakat yang menuding itu tidak berkaca pada diri sendiri, atau setidaknya menanyakan dan berandai-andai, "Apabila saya bersikap lebih terbuka dan menerima perempuan yang hamil itu apa adanya, dan mau membantu ia dengan tulus untuk membesarkan anaknya, apakah ia akan tetap menggugurkan bayinya?". Pertanyaan reflektif semacam itu cenderung luput dan tidak pernah sama sekali terpikirkan karena kita punya tendensi untuk mempertanyakan moral orang lain tanpa ada kompromi.

Selain menghadapi ancaman pidana, seorang perempuan yang menggugurkan bayinya juga bermain dengan nyawa, karena aborsi yang tidak aman angka kematian perempuan yang melahirkan menjadi meningkat, atau setidaknya mengalami gangguan kesehatan reproduksi yang juga bisa mengarah pada infertilitas, kanker rahim, atau tumor. Belum lagi efek psikologis dan emosional yang menyertai dirinya pasca abortus, banyak dari mereka yang akhirnya mengalami gangguan mental dan kejiwaan, bahkan ada beberapa kasus dimana akhirnya perempuan itu bunuh diri.

Hal diatas jelas dan konkrit, terjadi di masyarakat, khususnya anak muda. Adalah benar anak muda  melakukan seks bebas, dan kita harus melakukan sesuatu untuk itu. Tapi bukan dengan cara menyangkal, menyalahkan dan kemudian mencekal iklan produk yang sebenarnya diperuntukkan untuk melindungi anak muda dari dampak seks bebas. Hal ini tidak pernah nyangkut di kepala saya. Mereka bilang, Iklan kondom mendorong adanya perilaku seks bebas pada anak muda. Relevansi-nya apa? Signifikansinya apa? Validitas-nya apa? Lha wong mereka yang melakukan seks bebas jarang yang seneng pake kondom kok...

 

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments